Kehilangan budaya

Gundul-gundul pacul

Gembelengan…

Nyunggi-nyunggi wakul

Gembelengan…

Wakul glimpang segane dadi sak latar…

***

Lama tak kudengar nyanyian itu. Aku rindu. Aku rindu suara anak-anak yang menyanyikannya. Lagu-lagu daerah. Bukan lagu-lagu yang 'seharusnya' tidak diperuntukkan untuk usia sebayanya.
***

Budaya Jawa nasibmu kini. Hidup segan, mati pun sungkan. Mainstream bahwa segala hal tentang budaya = norak = kuno nampaknya telah mengakar kuat dalam generasi penerusmu.
Anak-anak lebih hafal lagu-lagu 'dewasa' tanpa makna dan nihil nilai edukasi daripada tembang-tembang macapat.

Anak-anak lebih hafal nama-nama karakter dalam anime impor dari jepang, daripada nama-nama karakter dalam cerita pewayangan.

Jangan salahkan anak-anak. Child never wrong, adult does. Salahkan media visual (media paling dekat dengan masyarakat) dengan segala macam konten 'impor'-nya yang jauh dari norma dan karakteristik dasar bangsa. Pancasila, serta budaya bangsa, hanyalah menjadi komoditas 'kiri' bagi budak rating seperti mereka.

Tanyakan pada guru SBD yang loyal, apakah dengan jumlah jam yang minim, cukup untuk memenuhi 'rasa haus' budaya Jawa untuk dilestarikan?
Jangan umpat anak-anak dengan predikat 'tak punya unggah-ungguh' jika di sekolah krama inggil sebagai disiplin ilmu kalah oleh prioritas english education.

Alih-alih memperolehnya di rumah, para orang tua 'modern' merasa lebih 'gengsi' dengan membiasakan anaknya berbahasa Indonesia.
Dengan gelombang globalisasi dan derasnya 'invasi budaya' serta minimnya kesadaran akan budaya daerah, jangan kaget jika lambat laun Aksara Jawa serta legendanya, punah, digantikan hiragana, katakana, dan kanji. Jaran kepang serta pertunjukan wayang, punah, digantikan parade musik, road race, break dance, dan lain sebagainya.

Kenapa meneriakkan ganyang Malaysia? Kalau kita sebagai pemilik budaya saja malas melestarikannya? Tak perlu pula malu untuk berkaca pada bangsa lain yang lebih mengapresiasi budaya kita.

Aku bukan orang yang serba tahu ataupun pakar sastra dan budaya Jawa. Hanacaraka pun aku telah lupa. Tapi setidaknya aku tahu, dan aku peduli. Aku tahu sastra jawa bukan dari bangku sekolah, tapi dari http://jv.wikipedia.org. Kenapa? Karena dulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah, Basa Jawa benar-benar pelajaran yang membosankan. Tak perlulah diadakan survei yang menghamburkan uang negara, karena hampir semua siswa akan menjawab serupa.

Berangkat dari situlah, hal pertama yang harus dibenahi adalah mainstream. Akarkan rasa cinta yang kuat akan budaya jawa maka mainstream itu pun akan berubah dengan sendirinya. Tidak mudah memang. Perlu kerja keras dan juga kreativitas. Tapi, semua itu perlu dan darurat sifatnya, jika tak ingin hasil karya nenek moyang kita sia-sia, serta supaya Jawa tetap menjadi "Jawa".

0 komentar:

Posting Komentar

mohon beri masukan